01 JAnuari 2015
Tahun baru,
yang pertama gue pikir adalah apa yang udah (berhasil) gue lakukan?
Bukannya mau ngomong
nulis dengan gaya sok tua,sok pinter, sok bijak atau gimana...
Jujur aja pagi
ini saat gue bangun tidur, gue mikir tahun udah ganti dan hitungan umur gue
nambah sehari lagi.
Gue ga
menampik kenyataan bahwa gue emang bukan orang yang agamis banget, tapi
seenggaknya gue tetep bersyukur Allaah SWT masih ngasih gue kesempatan hidup
sampai hari ini. Alhamdulillaahi robbil ‘alaamiin, ‘alaa kulli haal, ‘alaa
kulli ni’matan fii hadzihil yaum (i said it everyday).
Semalem
acaranya sama Kangmas menyusuri rumah teman dan kerabat, dimana-mana orang jadi
tukang sate mendadak. Kadang geli juga gue mikirnya, ritual kah? Tapi gue
positif thinking aja.
They used it
for gathering their family member. That’s it. No more.
Malah di RT
tempatnya Kangmas ada acara kumpul-kumpul warga, doĆ” bersama, makan bersama.
Gue pikir itu hal yang positif mengingat kehidupan di ibukota ini udah jarang
banget ditemukan kebersamaan, tapi dengan event Tahun Baru 2015 ini mereka
bikin acara untuk semuanya, semua orang bisa ikut kalo ga ada acara lain.
Ke rumah Bang
Irwan - temennya Kangmas – di daerah Peusar Tengah. Ketemu istrinya,Teh
Evi,sama Azka anaknya. Gue udah cukup lama sih kenal sama mereka, hampir sama
dengan usia relationship gue sama Kangmas. Deket rumahnya bang Irwan juga ada acara
kumpul-kumpul warga dan live music dari pemuda-pemudanya macem karangtaruna
gitu lah.. asik sihh lumayan buat hiburan tapi jujur aja kuping gue gatel
dengerin permainan musik sama penyanyinya. Bukannya apa-apa, satu lagu aja ga
pernah kelar, pasti putus di tengah lirik dan suara vokalisnya aduuuhhh.....
gue ga bisa gambarin.
Gue emang ga
jago nyanyi, tapi seenggaknya gue tau dikit-dikit lah teknik vokal. Maklum
mantan penyanyi Qasidah di kampung gue. (yaelah pake curhat... --_--“)
Well after
all, yang gue dapet dari event tahun baru adalah pelajaran bahwa hidup itu selalu
berubah, nasib berubah, dan gue ga bisa diem aja tanpa ada sesuatu yang bisa
gue lakukan lebih baik dari tahun kemarin. Kangmas juga nasehatin banyak sama
gue semalem, ga usah bikin resolusi yang muluk-muluk, cukup mulai dari hal
kecil untuk setiap kebaikan dan lakukan sebagai kebiasaan. Gue ga akan nulis
resolusi gue disini, yang mau gue ungkapkan adalah bahwa hidup bukan drama
sinetron kaya di tipi-tipi yang bisa di setting akhirnya akan seperti yang gue
harapkan tanpa berusaha apapun.
Gue belajar
dari Bang Irwan sama Teh Evi, pasangan itu bagaimana, menjalani rumah tangga
dan segala permasalahannya itu bagaimana. Gue belajar bukan karena gue
buru-buru pengen cepet nikah (sebenernya ga ada larangan untuk ingin segera
menikah, asal ada kesiapan lahir dan batin emang), gue belajar dari mereka
sebenernya untuk mempersiapkan diri gue sendiri.
Yang gue pikirkan adalah gue udah 22 tahun 4
bulan sekian hari, gue lulus SMA tahun
2010 dan apa yang udah gue perbaiki dalam hidup? Apa yang udah gue persiapkan
untuk masa depan gue.
Alhamdulillaah sih gue masih kerja di
perusahaan trading sampai sekarang, tapi apa selamanya akan seperti itu? Nasib
bisa dirubah dengan kemauan dan kerja keras, gue tau itu. Keberhasilan ga
diukur dengan uang, gue juga sadar itu. Apalagi soal mapan, itu penilaian
subjektif. Tapi dari semua yang gue pikirkan adalah, gimana caranya
membahagiakan orang-pramng yang gue sayangi. Ayah – Bunda gue punya standar
kebahagiaan sendiri, adik gue satu-satunya juga udah beda standar. Apalagi Kangmas,
belum keluarga yang lain, budhe,pakdhe,tante,om,sepupu,keponakan,calon
mertua,ipar,dan lainnya. Gue tahu diri, gue ga bisa bikin mereka semua bahagia,
tapi yang bisa gue lakukan adalah memberi yang terbaik dari gue.
Gue masih
kadang labil sama emosi gue, apalagi kalo PMS. Engg... ada hubungannya sih kalo
mau jujur mah. Siapa sih yang tahan badan pegel-pegel selama seminggu sebelum
haid terus perut mules-mules ga jelas dan kalo kepancing emosinya kangsung
pengen “makan” orang?
That’s reason
why you, boys, have to be moooooreeeeee patient and just a little bit to stay
away from a girl with PMS. Hahahaha
Menjadi orang
yang lebih baik itu susah tapi bukannya sesautu yang ga mungkin, semua butuh
usaha. Semua butuh perencanaan dan pelaksanaan. Ga cuma rencana doang atau asal
jalan aja. BIG NO! gue berusaha semampu gue menjadi seorang anak,seorang kakak,
seorang adik, seorang pelajar, seorang ustadzah, seorang karyawan, seorang
staff akuntan, seorang anggota team, seorang calon istri dan seorang calon
menantu yang baik. Gue tau ga ada manusia sempurna, tapi seenggaknya ada usaha
dong tetep... *optimis*J
Intinya, masa
depan itu tergantung dari usaha kita saat ini, mau jadi baik atau buruk adalah
kebiasaan mulai dari saat ini. Gue nulis ini bukan ngajarin orang lain, cuma
sebagai pengingat bahwa gue bisa lupa tanpa catatan.
And
at least,
Alhamdulillaahi
Robbil ‘Alaamiin.
Lots
of love,
Alya
a.k.a Roro Ayu Ngabei Cokro Airlangga Diningrat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar