Sore ini nyuri waktu dikit di kantor buat nonton film online. hahaha (maaf, jangan ditiru!)
I found a drama movie..... Mom's Night Out yang release 2014.
aku ga begitu familiar sama cast pemainnya, but the point is its story.
Selama beberapa bulan ini aku menemukan beberapa permasalahan yang terjadi di lingkunganku.
about husband and wife and their family, about friendship, kehidupan sosial yang REAL terjadi di lingkup temen-temen sekolahku dulu. for example, ada banyak temanku yang menikah setelah lulus SMP maupun SMA. point-nya adalah, mereka kehilangan diri mereka saat memiliki tanggung jawab yang besar. beberapa pernah bercerita bahwa ini berat, itu rumit, this is like a nightmare! Wow...hold on! Girls, you're not alone. :-)
Someone told me, ga sanggup menjalani peran sebagai istri, ibu dari balita yang hyperaktif, atau cranky, ada juga yang khawatir tentang lived with Mom-in-law, and family in-law member yang lain. okelah,,, aku memang belum mengalaminya. tapi setelah liat dari film diatas, yang sering bermasalah adalah point of view kita, merasa kurang benar, ga sempurna, ga membahagiakan suami, anak, bukan ibu yang baik, STOP that!! Yang harus kita lakukan hanya melakukan yang terbaik yang kita bisa, selebihnya biar Tuhan yang menentukan.
Kita ingin punya suami yang perhatian, yang mengerti, yang mau membantu pekerjaan di rumah. sudahkah mencoba bicara pada pasangan?
Kita ingin anak melakukan sesuatu yang baik, yang tepat, tanpa mengacaukan rumah, sudahkah memberikan contoh kepada mereka?
Kita ingin dilihat teman sebagai pribadi yang menyenangkan, selalu terlihat bahagia, berwawasan luas, mempunyai kehidupan yang sempurna. Sempurnakah? sejauh apa kita sudah menerima diri kita? sedalam apa kita mengerti perasaan kita sediri?
Girls, i know what you feel. saya adalah orang yang spontaneous dalam koridor hukum dan adat. saya suka dengan hal yang berbau seni, kehidupan sosial, dan kebersamaan. saya sering membandingkan kehidupan yang saya jalani dengan teman-teman di sekitar saya. jika saya ingin seperti mereka, saya bisa kok.. tapi apa dengan itu saya bahagia? I doubt that. Kebahagiaan kita ada dalam diri kita, bersyukur selalu dengan apa yang telah kita miliki. Yakinlah bahwa Allaah SWT tidak salah settingan, setiap orang memiliki kehidupannya masng-masing. yang harus dia lakukan untuk bahagia bersama orang lain adalah menyelaraskannya.
saya seorang single, seorang kuli jakarta, yang masih labil dengan semua yang saya hadapi. Tapi saya mencoba menjalani apa yang menjadi rutinitas tanpa menghilangkan kepribadian saya. Saya bekerja dan alhamdulillaah di kantor boleh berjilbab. saya syukuri itu.
Saya bangun pagi-pagi dari Tangerang berangkat kerja naik bus setiap hari, sampai di kantor masih sempat sarapan meski hanya segelas teh manis hangat. saya syukuri itu.
Every weekend saya mungkin hanya di rumah, jarang sekali jalan-jalan keluar kalau ga janjian sama temen lebih dulu. tapi di rumah saya bersyukur, bisa istirahat, sekedar duduk di teras dan ngobrol dengan tetangga sudah cukup.
jika dikatakan saya bahagia, ya Alhamdulillaah. setidaknya saya masih bersama keluarga saya, bersama orang-orang terdekat, teman-teman saya, pekerjaan saya, dan kehidupan yang layak meski kondisi pas.
menjadi lajang yang merantau jauh dari orangtua itu tekanan batinnya 2x lipat dari lajang biasa. Saya terbiasa melakukan semuanya sendiri. mulai dari urusan domestik rumah, hingga kehidupan sosial saya. Saya masih menikmati jalan-jalan dengan beberapa teman rantau yang sama-sama lajang. dan itu juga cukup membahagiakan. Tapi jika disinggung tentang menikah, saya hanya bisa mengatakan mungkin saya bisa menikah sekarang, tapi apakah pernikahan ini yang saya harapkan? saya tahu tidak ada pernikahan yang sempurna, tapi setidaknya saya ingin setelah menikah tidak terlalu banyak mengeluhkan tentang masa muda yang hilang. Saya ingin setelah menikah bisa menata hidup yang lebih baik, tidak melulu berkeluh kesah galau tidak jelas seperti ketika lajang dahulu, tidak pula selalu menuntut kehidupan bak cerita dongeng.
Semua orang ingin bahagia, tentu saja. Mencoba dengan merubah point of view kita, menyadari dan menerima diri kita, menempatkan diri sesuai porsi kita, dan melihat realita dimana kita berada akan bisa merubah dan mengurangi tekanan hidup yang kita rasakan.
Menjadi lajang yang cukup produktif, berwawasan, mempunyai kehidupan sosial yang menyenangkan.
Menjadi istri yang cukup membahagiakan untuk seorang suami.
Menjadi ibu yang cukup memberi teladan dan bimbingan untuk anak-anaknya.
Berhenti mengeluh dengan tekanan hidup, merubah cara pandang dari suatu masalah.
Semua ingin bahagia,
saya juga sedang berusaha dan berdo'a untuk kebahagiaan yang saya inginkan. :-)
Lots
of love,
Alya
a.k.a Roro Ayu Ngabei Cokro Airlangga Diningrat


