Rabu, 14 Januari 2015

And There is Friends are For..


Wednesday, 31 Desember 2014



Teman sama sahabat itu beda ga sih?
Setau gue beda, dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ada orang yang begitu kagum dengan teman Ali ibn Abi Thalib r.a yang begitu banyak, kemudian dia berkata,”wahai Ali,begitu banyak sahabatmu. Berapakah jumlahnya?,jawab Sayyidina Ali,”nanti akan ku hitung setelah aku mendapatkan musibah” (H.R Muttafaq ‘Alaih)
Gue ga akan ngomongin soal hadits yang mana, perawi yang mana,tahun berapa dan lain-lain. Gue Cuma mau ngambil intinya, bukankah mutiara itu meski keluar dari lumpur dia tetap sebuah mutiara? Anda pasti lebih tau daripada saya.
Intinya, temen itu apa sih? Bisa ga temen itu “naik pangkat”jadi sahabat? Dan sahabat itu apa?
Setau gue dari buku-buku yang gue baca, nasehat yang gue denger, dan diskusi yang gue pahami, teman itu orang yang mengenalmu dan berada di lingkungan sosialmu. Sedangkan sahabat, adalah orang yang mengenalmu, memahami, bersamamu dalam keadaan baik atau buruk. Yang paling gampang adalah teman itu mengatakan apa yang ingin kamu dengar sedangkan sahabat itu mengatakan hal yang ingin dan tidak ingin kamu dengar. Itu definisi menurut gue. Setiap orang punya persepsi masing-masing.

Gue punya banyak temen, ada yang seusia gue, ada yang bahkan lebih tua dari gue. Yang alay? Banyak. Yang dewasa juga ada. Bahkan ada temen yang usianya lebih tuaaa dari gue tapi alaynya lebih alay dari ABG labil ingusan. Yang gue lakukan adalah mengambil pelajaran bercermin dari tingkah laku dan pola pikir mereka.
Gue emang masih labil juga sih,, apalagi kalo lagi ngumpul sama temen SMA gue dulu. Rame banget dah... tapi yang bisa di sebut sebagai sahabat yahh cuma beberapa saja.

Contohnya Julian, sahabat gue dari masih piyik sampe sekarang. Kita jarang sih berkomunikasi karena, pertama jaraknya jauh. Dia masih kuliah di Solo, gue udah kerja di Jakarta. Kedua, Julian itu introvert. Mungkin cuma gue yang ngerti bahasa dia. Hahaha... tapi dia baik koq sama semua orang. Dari SD, MTs (setara SMP) sampe SMK jadi satu sekolah melulu sama dia. Bahkan waktu SMK, kalo sore gue ngajar anak-anak di TPQ sama dia juga, cuma beda kelas yang dibina.
Sampe dia mau masuk kuliah masih ngajak gue. Berhubung gue ga ada dana buat kuliah, gue ga bisa barengan sama dia. Komunikasi tetep ada cuma ga sesering jaman sekolah dulu. Terutama waktu Julian udah punya pacar (gue ga tau pacar ke berapa. Haha) Pacarnya sensi banget sama gue, secara Julian curhat apa-apa ke gue (dulu). Dan gue mencoba ngertiin dengan sedikit menjaga jarak dari mereka. Biar mereka juga bisa dewasa menghadapi masalah mereka sendiri.


Sahabat gue banyak, ga bisa gue ceritain satu-satu. Alhamdulillaah gue dikasih teman-teman yang baik sama Allaah SWT. Ada Novi, Yeta, Putri, Ali, Iwan, Yasser, David, Fajar, Saif, dll. Ga muat kalo di daftar disini. Itu baru temen dari angkatan SMA. Kalo SD,SMP mah lain lagi orangnya. J
Dari sekian banyak sahabat dan teman yang gue punya, yang paling penting menurut gue adalah komunikasi terutama menyapa mereka meski cuma di BBM (Blackberry Messenger) atau tag foto di Facebook, bikin acara reuni bayangan yang cuma didatengi beberapa temen yang punya waktu luang. Tapi dari semua usaha gue itu, gue cuma berharap semoga silaturrahim ini tetep terjaga meski sedikit partisipannya.

And at least,
Alhamdulillaahi Robbil ‘Alaamiin.

Lots of love,
Alya a.k.a Roro Ayu Ngabei Cokro Airlangga Diningrat

Kamis, 01 Januari 2015

A Happy New Year... 2015



01 JAnuari 2015

Tahun baru, yang pertama gue pikir adalah apa yang udah (berhasil) gue lakukan?
Bukannya mau ngomong nulis dengan gaya sok tua,sok pinter, sok bijak atau gimana...

Jujur aja pagi ini saat gue bangun tidur, gue mikir tahun udah ganti dan hitungan umur gue nambah sehari lagi.
Gue ga menampik kenyataan bahwa gue emang bukan orang yang agamis banget, tapi seenggaknya gue tetep bersyukur Allaah SWT masih ngasih gue kesempatan hidup sampai hari ini. Alhamdulillaahi robbil ‘alaamiin, ‘alaa kulli haal, ‘alaa kulli ni’matan fii hadzihil yaum (i said it everyday).

Semalem acaranya sama Kangmas menyusuri rumah teman dan kerabat, dimana-mana orang jadi tukang sate mendadak. Kadang geli juga gue mikirnya, ritual kah? Tapi gue positif thinking aja.
They used it for gathering their family member. That’s it. No more.
Malah di RT tempatnya Kangmas ada acara kumpul-kumpul warga, doĆ” bersama, makan bersama. Gue pikir itu hal yang positif mengingat kehidupan di ibukota ini udah jarang banget ditemukan kebersamaan, tapi dengan event Tahun Baru 2015 ini mereka bikin acara untuk semuanya, semua orang bisa ikut kalo ga ada acara lain.

Ke rumah Bang Irwan - temennya Kangmas – di daerah Peusar Tengah. Ketemu istrinya,Teh Evi,sama Azka anaknya. Gue udah cukup lama sih kenal sama mereka, hampir sama dengan usia relationship gue sama Kangmas.  Deket rumahnya bang Irwan juga ada acara kumpul-kumpul warga dan live music dari pemuda-pemudanya macem karangtaruna gitu lah.. asik sihh lumayan buat hiburan tapi jujur aja kuping gue gatel dengerin permainan musik sama penyanyinya. Bukannya apa-apa, satu lagu aja ga pernah kelar, pasti putus di tengah lirik dan suara vokalisnya aduuuhhh..... gue ga bisa gambarin.
Gue emang ga jago nyanyi, tapi seenggaknya gue tau dikit-dikit lah teknik vokal. Maklum mantan penyanyi Qasidah di kampung gue. (yaelah pake curhat... --_--“)

Well after all, yang gue dapet dari event tahun baru adalah pelajaran bahwa hidup itu selalu berubah, nasib berubah, dan gue ga bisa diem aja tanpa ada sesuatu yang bisa gue lakukan lebih baik dari tahun kemarin. Kangmas juga nasehatin banyak sama gue semalem, ga usah bikin resolusi yang muluk-muluk, cukup mulai dari hal kecil untuk setiap kebaikan dan lakukan sebagai kebiasaan. Gue ga akan nulis resolusi gue disini, yang mau gue ungkapkan adalah bahwa hidup bukan drama sinetron kaya di tipi-tipi yang bisa di setting akhirnya akan seperti yang gue harapkan tanpa berusaha apapun.

Gue belajar dari Bang Irwan sama Teh Evi, pasangan itu bagaimana, menjalani rumah tangga dan segala permasalahannya itu bagaimana. Gue belajar bukan karena gue buru-buru pengen cepet nikah (sebenernya ga ada larangan untuk ingin segera menikah, asal ada kesiapan lahir dan batin emang), gue belajar dari mereka sebenernya untuk mempersiapkan diri gue sendiri.
 Yang gue pikirkan adalah gue udah 22 tahun 4 bulan sekian hari, gue lulus SMA  tahun 2010 dan apa yang udah gue perbaiki dalam hidup? Apa yang udah gue persiapkan untuk masa depan gue.

 Alhamdulillaah sih gue masih kerja di perusahaan trading sampai sekarang, tapi apa selamanya akan seperti itu? Nasib bisa dirubah dengan kemauan dan kerja keras, gue tau itu. Keberhasilan ga diukur dengan uang, gue juga sadar itu. Apalagi soal mapan, itu penilaian subjektif. Tapi dari semua yang gue pikirkan adalah, gimana caranya membahagiakan orang-pramng yang gue sayangi. Ayah – Bunda gue punya standar kebahagiaan sendiri, adik gue satu-satunya juga udah beda standar. Apalagi Kangmas, belum keluarga yang lain, budhe,pakdhe,tante,om,sepupu,keponakan,calon mertua,ipar,dan lainnya. Gue tahu diri, gue ga bisa bikin mereka semua bahagia, tapi yang bisa gue lakukan adalah memberi yang terbaik dari gue.

Mungkin gue juga harus mengurangi dan menghilangkan ke-alay-an gue yang kadang masih muncul ke permukaan. (Beeh....bahasanye. “--_--)
Gue masih kadang labil sama emosi gue, apalagi kalo PMS. Engg... ada hubungannya sih kalo mau jujur mah. Siapa sih yang tahan badan pegel-pegel selama seminggu sebelum haid terus perut mules-mules ga jelas dan kalo kepancing emosinya kangsung pengen “makan” orang?
That’s reason why you, boys, have to be moooooreeeeee patient and just a little bit to stay away from a girl with PMS. Hahahaha

Menjadi orang yang lebih baik itu susah tapi bukannya sesautu yang ga mungkin, semua butuh usaha. Semua butuh perencanaan dan pelaksanaan. Ga cuma rencana doang atau asal jalan aja. BIG NO! gue berusaha semampu gue menjadi seorang anak,seorang kakak, seorang adik, seorang pelajar, seorang ustadzah, seorang karyawan, seorang staff akuntan, seorang anggota team, seorang calon istri dan seorang calon menantu yang baik. Gue tau ga ada manusia sempurna, tapi seenggaknya ada usaha dong tetep... *optimis*J

Intinya, masa depan itu tergantung dari usaha kita saat ini, mau jadi baik atau buruk adalah kebiasaan mulai dari saat ini. Gue nulis ini bukan ngajarin orang lain, cuma sebagai pengingat bahwa gue bisa lupa tanpa catatan.

And at least,
Alhamdulillaahi Robbil ‘Alaamiin.

Lots of love,
Alya a.k.a Roro Ayu Ngabei Cokro Airlangga Diningrat